Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

THE SMURFS 2 : Might Better Stay In Comic Book Format


Quote:
Papa: It doesn't matter where you came from. What matters is who you choose to be..

Nice-to-know:
Sofía Vergara
sempat memerankan cameo Odile Anjelou dari episode sebelumnya tapi adegan tersebut akhirnya dihapus.  

Cast:
Hank Azaria
sebagai Gargamel
Neil Patrick Harris sebagai Patrick
Brendan Gleeson sebagai Victor
Jayma Mays sebagai Grace
Jacob Tremblay sebagai Blue
Katy Perry sebagai Smurfette
Christina Ricci sebagai Vexy
Jonathan Winters sebagai Papa Smurf
J.B. Smoove sebagai Hackus
George Lopez sebagai Grouchy Smurf
Anton Yelchin sebagai Clumsy Smurf
John Oliver sebagai Vanity Smurf
Frank Welker sebagai Azrael

Director:
Merupakan f
ilm kesembilan bagi Raja Gosnell yang mengawali karir penyutradaraannya sejak Home Alone 3 (1997).

W For Words:
Ada kekhawatiran tersendiri saat mengetahui bahwa The Smurfs pada tahun 2011 yang lalu akan diangkat ke layar lebar. Bukan apa-apa. Salah satu buku komik terfavorit sepanjang masa itu tidak pernah saya lewatkan barang satu edisi pun karena kisahnya yang ringan, lucu, menghibur dan kaya karakteristik itu. Nyatanya film tersebut cukup memenuhi standar saya meski belum sesuai ekspektasi. Hasil box-office di kisaran 140 juta dollar di Amerika Serikat saja tampaknya jadi alasan kuat bagi produser dalam merencanakan sekuelnya dua tahun kemudian. Here it is!

Penyihir jahat Gargamel menciptakan sepasang makhluk mini serupa smurf yang bernama Vexy dan Hackus untuk memenuhi ambisinya mengisi ramuan tongkat saktinya. Nyatanya tidak berhasil dan tetap membutuhkan sari smurf yang asli. Maka diculiklah Smurfette yang kebetulan sedang kesepian karena mengira tak satu smurf pun mengingat ulang tahunnya. Papa Smurf dan kawan-kawan sekali lagi bertualang ke Paris demi membebaskannya. Patrick dan Grace yang sudah dikaruniai seorang putra sepakat membantu walau terganggu dengan kedatangan ayah tiri Patrick, Victor yang eksentrik.
Skrip yang masih ditulis oleh J. David Stem, David N. Weiss, Jay Scherick kali ini turut menggandeng David Ronn dan Karey Kirkpatrick berdasarkan karakter rekaan Peyo memberikan ‘bentuk’ petualangan lain kepada Papa Smurf dan Patrick lewat konsep parenthood dalam mewakili dunianya masing-masing selain krisis identitas yang menimpa Smurfette. Saya menghargai maksud baik ini tetapi sayangnya dalam eksekusi tidak cukup banyak waktu tersisa untuk melakukan eksplorasi menyeluruh. Alhasil jatuhnya menjadi tanggung dan hanya menyisakan berbagai slapstick untuk menjaga minat penonton.

Sutradara Gosnell masih memaksimalkan setting Paris termasuk katedral Notre Dame atau menara Eiffel dalam bercerita terutama di malam hari dimana warna biru smurf begitu kontras. Efek 3D nya tidak lebih baik dari prekuelnya karena cuma sedikit ‘kedalaman’ yang mampu memanjakan mata. Modernisasi coba dilakukan melalui tablet PC yang menggantikan buku sihir tua dengan exposure lebih besar melalui popularitas Gargamel di kota mode tersebut. Selebihnya masih mengandalkan slapstick (mostly adult) khas ketidaktahuan para smurf akan dunia manusia yang sebagian di antaranya malah membuat anda mengernyitkan kening.
Beban berat diemban NPH dimana tokoh Patrick mengalami perubahan karakter dengan tingkat kedewasaan yang cukup signifikan dari seri pertama. Sayangnya ia tidak melakukannya dengan baik. Berbagai aktor/aktris yang terlibat juga gagal memaksimalkan penjiwaan mereka termasuk Ricci dalam menyuarakan Vexy atau Gleeson sebagai Victor. Azaria pun masih terlalu satu dimensi sebagai Gargamel yang menyebalkan itu. Yang masih mencuri perhatian mungkin Azrael dan smurf narator yang disulihkan oleh Tom Kane sebagai pembuka dan penutup film itu.

The Smurfs sejak dahulu adalah dongeng quirkyyang rajin melontarkan humor pengundang senyum sambil menyelipkan pesan moral bagi generasi muda, anak-anak pada khususnya. Seri kedua ini tak kehilangan akarnya tentang bagaimana menerima diri sendiri apa adanya, memilih jalan hidup yang diyakini terlepas dari latar belakang yang membentuknya. Satu smurf, satu karakter. You can also choose what you want to be. I wish there was a better presentation rather than weak storytelling that somehow undeniably still sells all over the world. Well, my opinion hasn’t changed yet that some comic books might better stay on its format.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$
32,646,189 till Aug 2013

Overall:
7 out of 10

Movie-meter: