Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

CINTA BRONTOSAURUS : Love Expires But Remains Still


Quote:
Dika: Gue butuh cewe yang kalo gue ngeliat gue ga kebayang putusnya bakal kayak gimana.

Nice-to-know:
Jika anda cermati seluruh karakter pria dalam film ini mengenakan kacamata.

Cast:
Raditya Dika sebagai Dika
Eriska Rein sebagai Jessica
Soleh Solihun sebagai Kosasih
Ronny P. Tjandra sebagai Soe Lim
Bucek Depp sebagai Papa Dika
Dewi Irawan sebagai Mama Dika
Meriam Bellina sebagai Mama Jessica
Tyas Mirasih sebagai Wanda

Director:
Merupakan film ketiga bagi Fajar Nugros setelah Cinta Di Saku Celana (2012).

W For Words:
Dika Angkasaputra Moerwani yang lebih dikenal dengan nama Raditya Dika adalah seorang novelis jenaka yang kontan tenar sejak menerbitkan Kambing Jantan di tahun 2005 yang segera disusul empat judul berikutnya dengan status keseluruhan best seller! Empat tahun setelah bukunya, adaptasi layar lebar Kambing Jantan segera diproduksi oleh Indika Pictures dan Vito Production di tahun 2009. Saat itu Dika merambah layar lebar dan digarap langsung oleh sutradara kondang Rudy Soedjarwo. Empat tahun kemudian, giliran buku keduanya difilmkan. Penasaran? 

Kerap diputuskan kekasihnya dalam waktu singkat, Dika memilih percaya pada konsep cinta itu bisa kadaluarsa. Semua uneg-uneg nya sejak masa kecil tertuang pada buku terbarunya, Cinta Brontosaurus. Adalah produser film Soe Lim yang tertarik mengadaptasi karyanya tersebut ke layar lebar. Tawaran yang kemudian diamini oleh agennya, Kosasih yang memang sedang membutuhkan banyak uang untuk memenuhi kebutuhan hidup istrinya Wanda yang boros. Tanpa sengaja, Dika justru berkenalan dengan Jessica yang tak dipungkiri memiliki pemikiran setipe dengannya. Mungkinkah pandangannya berubah?

Skrip yang terinspirasi dari kisah nyata percintaan semasa hidup seorang Raditya Dika ini memang terbilang sangat jujur. Bukan hanya bagi yang bersangkutan tetapi juga kaum pria secara umum. Siapa sih yang tidak pernah ditolak cewe? Berapa kali anda pernah mengalami putus cinta? Jawaban yang dapat dipastikan frekuentif itu dirasa cukup untuk menjadi ‘nyawa’ film. Nyatanya tidak. Begitu menit-menit awal yang menjanjikan berlalu, yang tersisa adalah menit-menit yang agak membosankan karena konflik cerita yang terasa ditarik ulur kesana kemari.

Pertama, ada produser film sohor Soe Lim yang begitu rajin mengedepankan segala sosok ‘hantu’ di kancah perfilman nasional. Jangan salah. Ronny P. Tjandra sudah melakukannya dengan gaya eksentrik yang memikat. Namun pola sindiran terhadap pihak tertentu yang dianut tampaknya belum terlalu kuat menjalankan fungsinya. Kedua, ada rumah tangga Kosasih dan Wanda yang didominasi oleh masalah uang. Tanpa latar belakang mereka yang memadai membuat penonton sulit untuk larut dalam keprihatinan yang dikondisikan sedemikian rupa. Di satu sisi, Soleh lumayan berhasil memberikan nyawa tapi tidak halnya dengan Tyas yang berakting satu dimensi.

Sutradara Nugros selama ini saya kenal sebagai storyteller yang baik. Ia sudah melakukan upaya terbaiknya untuk mengemas kisah yang sesungguhnya biasa-biasa saja itu ke dalam tontonan yang mengalir. Tak sepenuhnya berhasil karena masih ada berbagai pengulangan yang tipikal dan tak jarang membuat penonton letih mengikutinya. Beruntung alunan suara HiVi! lewat suguhan tiga tembang manisnya sedikit banyak memberi esensi fun. Permainan kamera yang dinamis dari Yadi Sugandi dan editing yang rapi dari Cesa David juga menghadirkan nilai plus yang dibutuhkan.

Raditya Dika dari tahun ke tahun merupakan figur komedian yang khas. Tidak semua sasarannya lucu, banyak di antaranya cenderung datar saja. Butuh lebih dari sekadar fans untuk bisa tertawa mengikuti jalan pikirannya. Namun sebagai aktor, saya melihat peningkatan positif dibandingkan film sebelumnya. Eriska Rein dapat dikatakan beruntung mampu menjadi leading act hanya di film ketiganya ini menjadi pasangan yang pas. Walau Jessica digambarkan sebagai cewek freakdengan segala polah tingkah dan pemikiran ajaibnya, ia tetap girly dan loveable.

Cinta Brontosaurus secara cerdas kali ini menggandeng provider XL yang juga tengah melakukan peluncuran perdana program NONTON demi viral marketing yang lebih luas lagi. Terlepas dari formula cinta yang cheesy dan efektifitas lelucon yang minim, setidaknya produksi terbaru Starvision ini masih cukup akrab menyapa penonton remaja hingga dewasa muda yang kerap mempertanyakan arti cinta ataupun teori batas waktu pacaran yang sedianya berlaku. Masih butuh jawaban? Ayo coba dipikirkan kembali matang-matang.

Durasi:
98 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

*Bespeak for Starvision/Fajar Nugros