Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

OBLIVION : Audio-Visual Fair Above Earth and Humanity


Quote:
Jack Harper: Is it possible to miss a place you've never been? To mourn a time you never lived?

Nice-to-know:
Proyek The Oblivion awalnya berasal dari skrip 8 halaman yang ditulis Joseph Kosinski dan diajukan sebagai novel grafis kepada Barry Levine dan Jesse Berger di Radical Publishing pada tahun 2007.

Cast:
Tom Cruise sebagai Jack
Morgan Freeman sebagai Beech
Olga Kurylenko sebagai Julia
Andrea Riseborough sebagai Victoria
Nikolaj Coster-Waldau sebagai Sykes
Melissa Leo sebagai Sally  

Director:
Merupakan film kedua Joseph Kosinski setelah TRON : Legacy (2010).

W For Words:
Delapan tahun sudah sejak terakhir kemunculan Tom Cruise dalam film bergenre science fiction, itupun remake ternama yakni War of the Worlds. Bisa jadi anda sama seperti saya, lebih ingat pendahulunya yaitu Minority Report (2002). Suguhan terbaru Universal Pictures ini tak sepenuhnya dapat dikatakan baru karena plotnya akan mengacu pada beberapa referensi dari yang sudah-sudah, tidak perlu disebutkan di sini agar tak ada tudingan menjiplak mentah-mentah. Sah-sah saja untuk sebuah tema post-apocalyptic yang sesungguhnya memang penuh dengan tanda tanya.

Jack Harper adalah teknisi yang ditugaskan menjaga robot-robot agar tetap pada fungsinya membasmi scavs di bumi. Pangkalannya terletak di lapisan stratosfer yang juga dikomandoi oleh Victoria dan disupervisi langsung oleh Sally melalui layar monitor. Ya, bumi memang telah mati selama enam puluh tahun akibat serangan alien. Kehidupan keduanya yang tenang mulai terusik saat Jack menyelamatkan nyawa Julia dari pesawat yang terbakar di area terpencil. Memori masa lalu yang perlahan terkuak agaknya membuat Jack bingung akan jati diri yang sebenarnya.

Joseph Kosinski mengembangkan komiknya bersama Arvid Nelson tapi kolaborasinya dengan Karl Gajdusek dan Michael Arndt lah yang menghasilkan skrip film ini. Nyaris setengah durasi awalnya dihabiskan untuk dua hal yakni pengenalan karakter Jack Harper berikut kecanggihan teknologi yang digunakannya dan penjelasan keadaan bumi berikut ancaman serius yang dihadapinya. Lewat pertengahan barulah muncul konflik utama yang segera diikuti penyelesaiannya. Tampaknya tidak terlalu sulit menerka kemana arah cerita akan bergulir.

Cruise adalah mega bintang Hollywood yang nyaris selalu “one man show” di setiap filmnya. Tokoh Jack Harper dimainkannya dengan energik, sensitif dan penuh keingintahuan. In my opinion, he did great, not as bad as people talked about. Riseborough dan Kurylenko memerankan dua pendamping wanita yang karakternya bertentangan. They are good enough to keep Cruise on balance. Sulit mengomentari penampilan Freeman, Coster-Waldau, Leo dll karena tak banyak kesempatan yang diberikan. Nah salah satu permasalahan utama film adalah kurangnya sosok antagonis yang bisa mempertajam konflik.

Kosinski di kursi sutradara mengulangi apa yang dilakukan sebelumnya yaitu pamer kecanggihan spesial efek. Lihat saja basis Harper dan Victoria yang sangat memanjakan mata dengan background langit biru atau kendaraan Harper dalam menjelajah semesta. Keunggulan itulah yang membuat anda cukup yakin merogoh kocek lebih untuk menyaksikan versi IMAX nya. Tak dipungkiri, storytelling miliknya menjadi sedikit terkesampingkan. Pace yang lambat di awal sangat mungkin membuat penonton awam merasa bosan hingga tak terlalu terjerat kepedulian lagi terhadap klimaks yang disuguhkan.

Di satu sisi, Oblivion terlalu memberi keleluasaan bagi penikmatnya untuk memahami konsep film secara utuh. Bagi anda yang menyukai detail, hal ini tentu akan sangat menyenangkan. Di sisi lain, pokok pembicaraannya masih berkisar pada hubungan interpersonal. Tak terlalu mengejutkan memang karena manusia semestinya tetap menggunakan hati dan perasaannya walaupun seburuk apapun situasi yang dihadapi. In the end, it’s about earth and humanity. Our own memories will always stand for who we are and what we do.

Durasi:
120 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter: