Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

CHERNOBYL DIARIES : Good Ingredients But Undercooked Horror


Quote: 
Paul: Have you heard of extreme tourism?

Nice-to-know: 

Ide film ini muncul pertama kali dalam benak Oren Peli saat melihat foto dalam blog milik seorang gadis yang bepergian ke Pripyat menggunakan motor [elenafilatova.com].

Cast: 
Jesse McCartney sebagai Chris
Nathan Phillips sebagai Michael
Jonathan Sadowski sebagai Paul
Ingrid Bolsø Berdal sebagai Zoe
Dimitri Diatchenko sebagai Uri
Olivia Dudley sebagai Natalie
Devin Kelley sebagai Amanda


Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Brad Parker yang sebelum ini berkutat di bidang efek visual termasuk dalam Let Me In (2010).

W For Words: 
Tak peduli seberapa lama 21 Cineplex menunda perilisan film ini setelah berminggu-minggu midnite show, saya tetap penasaran untuk menyaksikan di bioskop bersama seorang teman yang juga sangat menantikannya. Pasalnya, tragedi pembangkit tenaga nuklir Chernobyl di Ukraina yang terjadi pada tanggal 26 April 1986 merupakan satu peristiwa memilukan dalam sejarah. Apalagi ditambah nama Oren Peli sebagai empunya cerita sekaligus menjadi peringatan 25 tahun insiden tersebut. Ya siapa yang tidak mengenal sosok pencetus Paranormal Activity (2007) itu?

Remaja Amerika bernama Chris mengajak pacarnya Natalie dan teman mereka Amanda melancong ke Eropa sekaligus berjumpa kakak Chris yaitu Paul yang tinggal di Kiev, Ukraina. Liburan yang awalnya direncanakan Chris romantis dengan tujuan melamar Natalie itu berubah tatkala Paul nekad menyewa pemandu Uri untuk menelusuri Pripyat, kota mati dekat Chernobyl yang sudah lama ditinggalkan karena tingginya tingkat radiasi. Mereka bersama pasangan Viking, Zoe dan Michael harus mencari jalan keluar setelah van mogok dan makhluk-makhluk lapar keluar dari persembunyiannya.

Selain Peli, dua bersaudara Van Dyke yaitu Carey dan Shane juga turut menulis skripnya. Saya harus akui pencampuran ide antara horor tradisional dan found footage bukanlah keputusan terbaik. Film seakan kehilangan identitasnya. Paruh pertama yang menitikberatkan pada pengenalan berbagai karakternya sebetulnya sudah cukup baik membangun simpati penonton. Namun paruh kedua yang membuka tabir kota mati Pripyat dengan segala ketidakjelasan “momok” nya tanpa harus saya sebutkan satu persatu ternyata mengusik logika yang tidak pernah terjawab.

Sesungguhnya sutradara Parker sudah memiliki “arena bermain” yang mengasyikkan untuk mengeksploitasi segala bentuk teror. It’s creepy to imagine yourself being in the abandoned town, right? Sayangnya ia lebih memilih koridor gelap dan ruang bawah tanah dengan metode shaky cam yang semakin mengaburkan unsur naratifnya. Tempo yang merayap lambat tanpa kejutan berarti bisa jadi membosankan apalagi ditambah dengan spontanitas reaksi para tokohnya yang menjengkelkan karena kian mendekati bahaya daripada menjauhinya.

Chernobyl Diaries pada akhirnya seperti premis potensial yang melempem menjadi ide setengah matang sebelum dimasak ke dalam horor tanggung. Elemen-elemen seram nya masih terlampau klise dan sudah sering anda temui di film-film sejenis. Selepas credit title bergulir, filmmakers seakan berhutang pada penonton yang teramat berhak mendapatkan jawaban atas apa yang terjadi selama satu setengah jam terakhir. Gambaran Chernobyl asli yang penuh misteri rasanya akan lebih mengundang daya tarik. Atau anda ingin membuat dokumenter sendiri di dalamnya? That would be more fun to do rather than watch. 

Durasi: 
86 menit

U.S. Box Office: 
$18,112,929 till July 2012

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter: