Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PASUKAN KAPITEN : Inspirasi Visual Untuk (Tidak) Membully


Tagline:
Jangan pakai otot. Pakai otak.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Cinema Delapan ini melangsungkan gala premierenya di Gandaria XXI pada tanggal 2 Desember 2012.

Cast: 
Cahya R Saputra sebagai Yuma
Adrina Puteri Syarira sebagai Asti
Bintang Panglima sebagai Saleh
Omara N Esteghlal sebagai Omar
Andi Bersama sebagai Kakek Sudirman
Aryadila Yarosairy sebagai Widodo

Director: 
Merupakan film kedua bagi Rudi Soedjarwo di tahun 2012 setelah Langit Ke-7 yang justru syuting belakangan.

W For Words: 
Sedianya film ini rencananya diedarkan untuk menyambut libur Lebaran bulan Agustus yang lalu. Entah kenapa akhirnya diundur ke akhir tahun bahkan nyaris tanpa publisitas yang berarti. Cermin ketidakpedean filmmakers? Melihat nama Kemal Arsjad dan Rudi Soedjarwo untuk kolaborasi kesekian kalinya tetap saja rasa penasaran saya tergelitik. Apalagi tidak banyak film konsumsi anak-anak citarasa lokal yang beredar belakangan ini. Judulnya pun cukup menggambarkan ke-Indonesia-an nya yang langsung mengingatkan saya pada lagu karya AT Mahmud yaitu Aku Seorang Kapiten.

Omar adalah anak nakal yang kerap mengganggu anak-anak lainnya termasuk Yuma. Suatu ketika, Yuma tengah mengambil layangan miliknya di rumah kosong yang ternyata dihuni oleh Kakek pensiunan tentara. Pelan-pelan Kakek mengajarkan Yuma berbagai taktik perang dengan menggunakan cabe, ember, semprotan air dsb meski menuai protes dari para orangtua. Diam-diam Kakek merindukan putranya Widodo dan cucunya Citra yang sudah menempati rumah mewah di area mereka. Berhasilkah Yuma membuat Omar jera pada akhirnya?

Tumpal Tampubolon sebenarnya hanya ingin mengangkat tema per-bully-an. Namun tanda tanya besar hinggap di dalam benak saya, berapa halaman skrip yang minim dialog tersebut? Pertanyaan yang muncul selepas menonton tersebut dikarenakan terlalu banyak ruang kosong yang dapat diisi oleh subplot yang variatif. Persahabatan Yuma dengan teman-temannya tidak mempunyai jiwa. Sama halnya dengan hubungan Kakek dengan keluarganya tidak memiliki esensi apa-apa. Dua garis besar itu lantas dihubungkan dengan titik samar-samar melalui tokoh Omar yang bertingkah laku kurang terpuji? It’s a very thin line.

Saya akui kredibilitas Rudi Soedjarwo dalam menyutradarai apalagi menggaet Yunus Pasolang sebagai tata kameranya. Itulah alasan kuat mengapa visual film ini masih bercerita lebih baik dibanding plotnya sendiri. Sinematografi cantik dengan setting lokasi terbatas, kompleks perumahan, rumah mewah, rumah tak terurus saja setidaknya cukup memanjakan mata. Sayangnya upaya Rudi untuk menyatukan laki-laki dan perempuan dalam sosok anak kecil yang baru saling mengenal sudah kerap kita saksikan, masih segar dalam ingatan adalah Lima Elang (2011) yang chemistrynya jauh lebih natural. 

Penonton mungkin bisa memaklumi kekurangan akting dari Cahya, Adrina, Bintang, Omar dan lain-lain jika simpati dan interkoneksi dapat terbangun sedari awal dengan karakter-karakter yang mereka perankan. Minimnya latar belakang tak mampu dipungkiri. Anda akan bertanya-tanya mengapa Yuma, Asti, Saleh dan Omar tidak bersekolah? Apakah mereka sedang libur? Seberapa kuat pengaruh pendidikan formal dan nonformal terhadap keseharian mereka? Hanya satu tokoh yang ‘mengandung informasi’ disini yaitu Kakek yang dijiwai oleh Andi Bersama dengan cukup meyakinkan.

Pasukan Kapiten tidaklah sekreatif Lima Elang dalam menyusun strategi atau sevariatif Langit Biru (2011) dalam menyajikan pembalasan terhadap pelaku bully. Btw, apa korelasi judul dengan isi filmnya? Anyone? Menurut hemat saya, film ini adalah titik terlemah dalam karir seorang Rudi Soedjarwo terlepas dari dukungan tim produksi yang credible. Tagline “Jangan pakai otot, pakai otak” yang terpampang di poster sedianya sudah cukup menyampaikan pesan moral bagi anak-anak, tidak melulu harus melalui presentasi ending yang  over-the-topsaat Omar memukuli Yuma habis-habisan. Ouch!


Durasi: 

79 menit

Overall: 
6.5 out of 10

Movie-meter: