Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

AMOUR : Haneke’s Love Beneath Ageing and Death

Quote:
Georges: You must think that you’re a burden for me.

Nice-to-know: 

Terpilih sebagai wakil resmi Austria pada 85th Academy Awards 2013 kategori Best Foreign Language mendatang.

Cast: 

Jean-Louis Trintignant sebagai Georges
Emmanuelle Riva sebagai Anne
Isabelle Huppert sebagai Eva
Alexandre Tharaud sebagai Alexandre
William Shimell sebagai Geoff

Director: 
Merupakan film ke-12 bagi Michael Haneke setelah The White Ribbon (2009).

W For Words: 
Berumah tangga hingga beranjak tua bersama. Penulis sekaligus sutradara kelahiran Munich berusia 70 tahun, Michael Haneke punya pandangan tersendiri mengenai hal itu yang lantas dituangkannya dalam bentuk skrip. Pada akhirnya prestasi yang dicetak juga tidak main-main, Palme d'Or, penghargaan tertinggi pada ajang Festival Film Cannes 2012 mampu direnggutnya. Suatu kredibilitas yang tidak perlu diragukan lagi oleh moviegeek manapun termasuk Indonesia dimana film Austria yang satu ini kebetulan mampir di Festival Film Eropa 2012 yang lebih dikenal dengan sebutan Europe On Screen.

Georges dan Anne telah berusia 80 tahunan, pensiun dari profesi pengajar musik untuk menghabiskan hari tua bersama di sebuah apartemen. Putri mereka, Eva yang juga musisi tinggal di luar negeri dengan suaminya yang berkebangsaan Inggris. Masalah muncul ketika mereka tengah sarapan bersama, Anne mematung dan melupakan segalanya. Ia terserang stroke yang secara perlahan mulai menggerogoti kesehatan dan kemampuannya. Meski demikian Georges tetap sabar merawat istrinya ketimbang memasukkannya ke rumah sakit. Namun ujian cinta yang sesungguhnya kemudian datang bertubi-tubi.

Jean-Louis Trintignant dan Emmanuelle Riva menyuguhkan akting luar biasa. Limitasi bahasa tubuh mereka benar-benar menggambarkan usia tua sesuai peranannya. Riva sebagai Anne tampil meyakinkan sebagai pesakitan tak berdaya yang perlahan memasuki fase “anak-anak” kembali. Lihat bagaimana labil dan sensitif dirinya yang masih ngotot mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Trintignant juga tak kalah mencengangkan sebagai suami penyayang yang ketahanan mentalnya terus diuji. Lihat bagaimana ketakutannya begitu terpancar melihat wanita yang dicintainya mulai “menghilang”.

Hanya satu adegan yang disyut Haneke terjadi di luar apartemen. Selebihnya setiap ruangan bergaya Paris fully-furnishedbenar-benar dimaksimalkan untuk setting indoor yang tak jarang menciptakan unsur klastrofobia. Suasana sepi nan depresif juga dibangkitkan lewat minimnya scoring music sehingga yang tersisa hanyalah denting piano di satu dua bagian. Selebihnya adalah suara natural pemecah kesunyian seperti dering telepon, kucuran air kran, langkah kaki dsb. Tempo lambat juga memberikan kesempatan sebebas-bebasnya pada konflik untuk merambat perlahan meski akan sangat mengantuk atau membosankan bagi anda yang tak terbiasa.

Pelbagai metafora akan anda temui di sepanjang film. Setiap ruangan sempit dalam apartemen seakan melambangkan labirin pikiran penghuninya. Suasana mendung yang terus menyelimuti interior apartemen seperti menegaskan kemuraman hati Georges. Secercah sinar matahari yang menerobos masuk layaknya menyiratkan harapan hidup Anne yang tipis. Burung merpati yang tak sengaja masuk melalui jendela bagai simbolisasi penjara sekaligus kebebasan. Atau mimpi Georges yang terjebak di koridor banjir sambil diserang sosok tak dikenal sepatutnya mengggambarkan kekalutan jiwanya.

Kesabaran anda menonton Amour amat dibutuhkan layaknya kesabaran Georges memahami penderitaan Anne. Layaknya diajak mengamati aktifitas pasangan tua sehari-hari sekaligus menerka seberapa besar kadar cinta mereka terhadap satu sama lain lewat ujaran maaf atau terima kasih tanpa sungkan. Sesuatu yang pantas direnungkan, bagi yang memilih hidup melajang mampukah melewati hari tua seorang diri? Sedang bagi yang menikah bisakah menanggung (atau justru jadi tanggungan) beban pasangan? Kekhawatiran yang begitu mengusik dimana proses penuaan dan kematian adalah harga mati yang patut dibayar tiap manusia tanpa kecuali.

Durasi: 
127 menit 

Europe Box Office: 
€230,126 in Netherlands till Nov 2012 

Overall: 

8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent